19 Februari 2012

0 Budaya Jawa


Parikan dan Cangkriman
Selain terkenal dengan tata karma, sopan santun, dan lemah lembutnya, Jawa* juga terkenal dengan beraneka ragam sastranya. Parikan dan cangkriman adalah beberapa contohnya. Namun seiring dengan berkembangnya budaya kehidupan, masuknya budaya-budaya baru, budaya-budaya lama sudah banyak terlupakan. Banyak generasi muda yang lebih memilih untuk mendalami bahasa asing daripada bahasa “ibu”*-nya sendiri. Untuk itu, penulis mencoba sedikit berbagi pengetahuan tentang budaya asli (khususnya sastra) Jawa.
Ada banyak jenis sastra yang berasal dari Jawa. Tetapi dalam bahasan kali ini akan dibahas tentang Parikan dan Cangkriman.
1. Parikan
Parikan adalah sejenis pantun bila dipadankan dengan budaya Indonesia. Seperti pantun yang sarat akan makna dan petuah, Parikan juga mengajarkan pesan moral yang tinggi. Walaupun banyak juga Parikan yang isinya seperti pantun jenaka, tetapi sebenarnya banyak makna yang tersirat. Susunan kebahasaan juga mirip, ada pambuko (sampiran) dan juga isi. Parikan biasanya digunakan untuk penghibur hati, bahan bercanda, ataupun penyampaian pesan moral orang tua kepada anaknya.
Beberapa contoh Parikan yaitu :
a. Wedang bubuk, gula jawa à Yen kepethuk, ati lega
Artinya : (minum) kopi pakai gula jawa, kalau bertemu hati terasa lega.
Mungkin banyak orang (walau bukan orang Jawa) sering mendengar kalimat ini. Parikan yang seperti ini, dari isinya terlihat kalau parikan tersebut menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. Walau hanya bertemu dan tidak saling sapa tapi hati sudah terasa senang.
b. Manuk Emprit, menclok godhong tebu à dadi murid, sing sregep sinau.
Artinya : burung kutilang, bertengger di daun tebu, jadi murid yang rajin belajar
Ini adalah salah satu parikan yang digunakan untuk memberi nasihat kepada anak-anak agar mereka menjadi rajin belajar.
c. Esuk nyuling, sore nyuling, sulingane arek Surabaya à esuk eling, sore eling, seng dieling ra rumangsa
Artinya : Pagi bermain seruling, sore bermain seruling, bermain seruling cara anak Surabaya, pagi ingat, sore ingat, orang yang diingat tidak merasa
Layaknya seseorang yang sedang kasmaran tetapi bertepuk sebelah tangan.
2. Cangkriman
Cangkriman adalah tebak-tebakan dalam bahasa Jawa. Mirip dengan permainan teka-teki. Cangkriman digunakan untuk mendidik anak-anak agar pola mempunyai pola berpikir yang kritis. Biasanya cangkriman digunakan orang tua untuk bercanda dengan anaknya disela-sela waktu senggang atau waktu istirahat.
Beberapa contoh cangkriman yaitu :
a. Sega sakepel dirubung tinggi, opo? (Nasi satu kepal disusun tinggi)
Mungkin orang akan bingung untuk menjawab pertanyaan seperti itu, tetapi sebenarnya dalam cangkriman, jawaban yang perlu dicari adalah banyaknya persamaan dengan benda yang lain. Tetapi persamaan itu adalah persamaan yang unik dan mencolok.
Dan jawaban dari cangkriman di atas adalah “buah salak”.
Mengapa??? Dikarenakan, nasi yang disusun tinggi maka akan berbentuk seperti buah salah yang dibalik. Sama-sama berbentuk kerucut bagian atasnya. Hal inilah yang bisa menjadi sarana mengajar anak-anak karena mereka diajak berpikir tetapi dengan sesuatu yang menyenangkan.
b. Pitik walik saba kebon, opo? (Ayam dibalik mirip kebun besar)
Jawabannya adalah “buah nanas”, kenapa??? Karena buah nanas memiliki banyak persamaan dengan ayam yaitu bagian kulit dan ekornya. Daun-daun yang ada pada buah nanas mirip dengan ekor ayam sedangkan kulit nanas diumpamaan dengan bulu-bulu ayam.
Catatan :
Jawa : yang dimaksud adalah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
bahasa “ibu” : bahasa asli daerahnya
Semoga sedikit berbagi pengetahuan di atas bisa bermanfaat.
Mohon maaf bila banyak kesalahan karena keterbatasan penulis. Kritik dan saran sangat penulis harapkan. Kritik dan saran bisa langsung di komentar atau bisa juga lewat e-mail di alamat pangeransodik13@gmail.com

27 Januari 2012

0 Peringatan Hidup: Bencana, Peringatan, dan Diri Kita


Mungkin tidak asing lagi dan memang sudah cukup umum (*dan bahkan setiap tahun*) ibukota Indonesia, Jakarta selalu di landa banjir yang bisa mencapai ketinggian satu meter. Mungkin juga tidak asing lagi jika Jepang yang Negara paling maju sekalipun sering diguncang gempa bumi yang bahkan bisa mencapai 7 skala Riechter (*meskipun rata-rata masih di bawah 5*). Sering juga terdengar berita bahwa Miami, Florida, kawasan tepi samudra Atalntik juga sering mengalami El Nino atapun La Nina. Lalu pertanyaanya untuk apakah semua itu???
Banyak orang berpendapat bahwa semua itu adalah BENCANA (*mereka sering menyebutnya bencana alam*), tetapi banyak juga yang menyebut bahwa itu adalah UJIAN HIDUP dan memang sudah fenomena alam.
Kali ini akan ditinjau dari segi bencana (*karena sebagian besar juga media memberitakan dengan sebutan bencana alam*). Apakah yang akan ditinjau??? Seperti mata kuliah bahasa Indonesia, ada 5 hal yang harus diperhatikan pada sebuah berita jika ingin beritanya itu menjadi berita yang baik. Terkenal dengan 5W+H (what, where, when, why, who, how). Mungkin baik juga jika diungkapkan satu per satu bagian agar menjadi lebih jelas, tetapi seperti kita ketahui bersama, hal tersebut sangatlah berkaitan sehingga mungkin nantinya satu sub pembahasan akan menyinggung bagian lain.
Yang akan dibahas perdana adalah bagian what. Dalam kamus Inggris-Indonesia versi Oxford kata tersebut di artikan sebagai “apa”. Jadi apa itu Bencana??? Mungin akan banyak orang bisa yang menafsirkan arti kata tersebut jika mereka ditanya. Tetapi pada intinya menjurus pada arah yang sama. Bencana (*musibah*) adalah suatu fenomena hidup yang memang sudah harus dijalani. Pada titik ini, maka kehidupan kita pada fase yang sedang tidak bersahabat dengan kita. (*mungkin pikiran itulah yang bisa diutarakan penulis, sesuai dengan tipenya MELANKOLIS + PERFEKSIONIS*).
Lalu dimana (where) dan kapan (when) bencana itu bisa terjadi??? (*hal ini dibahas bersamaan karena memang sangat erat hubungannya. Jawabannya adalah bencana bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Tidak peduli apakah itu di daerah terpencil atau perkotaan. Tidak peduli apakah di tengah laut maupun tengah daratan. Bahkan tidak peduli kalaupun itu diluar angkasa. Dan masalah waktu adalah hak prerogartif dari Sang Pengatur Laku Manusia. Dan kalaupun itu sudah ditetapkan, kita tidak akan bisa menyanggahnya.
Who dan How adalah hal yang akan diuraikan selanjutnya. Berbicara masalah siapa, maka kurang layak dan pantas jika seandainya bertanya “siapa yang menciptakan bencana ini???” Jawabannya hanya dan hanya satu, yaitu Dzat yang Maha di atas segala Maha, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang pantas kita ajukan adalah pertanyaan “SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB PADA BENCANA INI???” Jawabannya adalah kita semua bertanggung jawab. Mengapa??? Karena kita yang mendiami bumi ini. Kita yang memanfaatkannya. Maka kita yang bertanggung jawab atas semua itu. (*terlepas dari bahwa itu takdir Tuhan*).
Lalu bagaimana (howi) itu bisa terjadi??? Mungkin kite semua sudah tahu, bahwa itu takdir Dzat Pemberi Hidup, tetapi terlepas dari semua itu, maka pasti ada peran dari manusia yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah terjadi dengan perantara, tidak terjadi dengan spontan. Seperti kelahiran yang diperantarai oleh rahim sang ibunda. Begitu juga bencana, pasti ada perantara dan penyebabnya. Dan jika kita melihat fakta ke belakang maka pernyataan itu memang benar. Sering kita melihat sampah yang bertumpuk dan dan berserakan (*mungkin kurang tepat pemilihan katanya*) di sungai yang menyebabkan air sungai susah untuk mengalir. Sering juga kita melihat penebangan hutan dimana-mana demi kepentingan selembar dua lembar dolar (*mungkin tidak bisa dituliskan langsung seberapa besarnya, itu hanyalah kiasan*) menyebabkan hutan gundul. Pembalakan dan pembakaran hutan juga sama. Pasti juga kita melihat jika pergi ke kota-kota besar, kanan kiri depan belakang, yang terlihat hanyalah bangunan, bangunan, dan bangunan. Mulai rumah, sekolah, pasar, hotel-hotel mewah, apartemen, dan masih banyak lagi. Lalu masih PANTASKAH KITA BERTANYA BAGAIMANA BENCANA ITU BISA TERJADI???
Dan aspek yang paling penting dari sebuah arti bencana adalah WHY (mengapa bencana itu harus terjadi dan harus ada???). Bertanya mengapa berarti bertanya hubungan sebab dan akibat. Mungkin tidak jauh berbeda jika kita melhat dari sudut pandang bagaimana??? Tetapi yang akan digaris bawahi dan ditekankan adalah mengapa bencana ini harus terjadi, ada apa sebenarnya???
Mungkin bagi generasi muda (*termasuk penulisnya sendiri*) perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat tidaklah signifikan. Tetapi bagi sebagian besar orang tua (*menurut cerita*) masyarakat sekarag sudah sangat berbeda dengan masyarakat dulu (*lebih-lebih masyarakat kota yang sudah jauh lebih modern*), ada sesuatu yang sudah lama hilang. Sesuatu yang hilang itu adalah SIFAT SOSIAL. Masyarakat yang dulu sangat rukun akrab, sangat solider sesamanya, sangat ramah dan akur, sangat gemar tolong menolong. Masyarakat yang dulu sangat peka terhadap terhadap lingkungannya, baik lingkungan alam dan sosialnya. Sekarang sudah hilang entah kemana. Banyak individu yang lebih suka menampakkan individualism dan egoisme, daripada bergotong royong dan saling tolong menolong. Banyak orang yang sudah sangat kurang hubungan kekerabatan dan keakrabannya, bahkan sesame saudara sendiri. Banyak orang yang rela mengorbankan lingkungan demi memperkaya diri. Banyak orang yang tega mengorbankan hak-hak saudara dan sesamanya demi kepentingan sendiri.
Lalu MENGAPA HARUS DENGAN BENCANA???
(*masih dalam kegelapan, listrik sudah sejak ba’da subuh tadi pagi mati dan sekarang pukul 20.32 belum ada tanda-tanda akan menyala*).
(*sampai bagian di atas ini ditulis pada 25 Januari 2012, selesai pukul 20.32*)
(*21.26… Alhamdulillah listrik menyala lagi. Tapi sayangnya ide lom keluar jadi lom dilanjutin…*)
(*melanjutkan lagi dihari berikutnya setelah listrik hidup… 20.06*)
Mungkin aspek itulah yang paling penting dari pembahasan ini semua. Karena mengapa mengandung aspek yang menunjukkan sebab akibat. Berbicara masalah sebab, mungkin sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar bencana yang terjadi adalah akibat baik secara langsung atau tidak langsung dari perbuatan dan keseharian manusia sendiri. sampah yang menggenang di sungai, hutan yang gundul terbabat, maupun gunung kapur yang rapuh akibat penambangan. Tapi lebih dari itu, mengapa Tuhan Yang Maha Esa harus memberi kita sebuah bencana???
Jawabannya adalah satu, yaitu untuk peringatan umat manusia. Peringatan terhadap apa??? Banyak yang telah diutarakan di atas, bahwa rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan telah mulai menghilang. Padahal itu adalah hal yang sangat penting dalam bermasyarakat untuk membangun masyarakat yang madani. Membangun masyarakat yang sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, bahkan kepercayaan kepada Dzat Pemberi Hidup sudah mulai luntur. Adanya pemisahan antara kehidupan dunia dan akhirat hampir sama fatalnya dengan tidak beragama. Agama yang bisa menjadi pondasi dan pedoman hidup yang paling baik (*jika diamalkan dengan baik*) harus senantiasa dijalankan. Pemisahan akan menjadikan kehidupan tidak seimbang.
Lewat jalan inilah (*BENCANA*) Tuhan Yang Maha Esa MEMPERINGATKAN kita agar senantiasa dekat kepadanya tidak hanya pada saat di tempat peribadatan saja, tidak hanya ketika acara-acara keagamaan saja, tetapi dalam semua aspek kehidupan. Mengingatkan kembali kepada kita untuk senantiasa berjiwa kemanusiaan yang tinggi. Persaudaraan, persamaan derajat, tolong menolong, tenggang rasa, dan kerukunan merupakan bekal yang harus kita bawa untuk membangun masyarakat yang madani.
Semoga bermanfaat.
(*buah dari pelarian rasa galau… memanfaatkan kelemahan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
(*20.27 alhamdulillah selesai juga.. :D *)

0 Peringatan Hidup: Cobaan, Hikmah, dan Illahi


Bagi sebagian besar orang, hidup itu seperti roda. Berputas terus berputar sampai tidak bisa berputar kembali. Kadang di atas, kadang di bawah. Roda sering juga tidak hanya melewati jalanan yang jalanan yang mulus. Jalan berbatu dan berduri sering kali terlewati.
Bagi sebagian besar orang juga, hidup itu seperti berjalan ke puncak gunung. Ketika masih di lembah jalanan masih datar dan mudah di lalui. Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin curam dan resiko untuk jatuh semakin besar juga. Bahkan tidak hanya itu, terpaan angina juga semakin kencang.
Itulah hidup. Tidak selamanya kita mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Tetapi sering juga kita merasakan sisi pahitnya kehidupan. Yang mungkin sampai untuk beberapa orang, kematian lebih dipilihnya. Hidup yang berjalan, senantiasa menuju kedewasaan (*kata seorang teman, seperti anak kuliah yang akan naik tingkat*). Pada saat anak-anak, masih hanya terpikir untuk bermain dan meminta kepada orang tua. Sedikit mulai dewasa, mulai adanya rasa malu ketika hanya bisa meminta dan meminta tanpa bisa memberi. Sampai pada suatu saat, bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang kita cintai. Tetapi proses menuju itu tidaklah mudah. Seperti seorang pendaki, semakin naik ke atas gunung, semakin kencang juga terpaan anginnya. Sama halnya dengan hidup, semakin kita menuju kedewasaan (*tidak hanya fisik, tetapi jiwa dan akal*) semakin besar juga ujian yang kita hadapi.
Ujian (*masalah*) bisa datang dalam berbagai bentuk laksana air yang punya tiga wujud. Dari yang paling keras yaitu es, berubah mencair dan akhirnya berubah menjadi uap yang siap mengudara. Mulai dari masalah yang sangat ringan sampai-sampai kita tidak sadar bahwa itu adalag suatu bentuk ujian. Masalah sedang yang kita secara sadar merasakan akibat yang kurang bersahabat pada kita dan berusaha untuk memecahkan dan melaluinya. Sampai masalah yang begitu berat yang kadang sampai bisa membuat hidup berasa tidak ada artinya lagi. Ataupun masalah yang kelihatannya kecil walaupun sebenarnya membawa dampak besar bagi kehidupan kita.
Mungkin banyak orang yang bertanya mengapa harus sering mendapat masalah (*cobaan*) yang begitu berat.???
Mungkin juga akan sangat banyak jawaban dan penafsiran yang lebih bijak.
Masalah hadir dalam kita ibarat garam dalam masakan. Masakan akan hambar tanpa garam. Begitu juga kehidupan. Hidup akan statis jika tidak ada yang bisa membuat kita berubah (*naik tingkat*). Salah satu jalan untuk menaiktingkatkan derajat kita adalah dengan masalah. Jika bisa melalui masalah tersebut maka derajat kita akan naik. Yang dimaksudkan adalah jika suatu saat kita menghadapi masalah yang sama atau mirip maka sudah akan bisa tahu cara penyelesaiannya.
Banyak juga orang yang lupa diri (*baik kepada orang-orang disekitarnya bahkan kepada Tuhannya*) ketika dalam keadaan bahagia. Yang terpikirkan adalah untuk menikmati kebahagiaan dari hasil kerja keras yang telah dilakukannya. Menikmatinya sebelum kebahagiaan itu pergi darinya. Sehingga banyak aspek yang cenderung luput darinya. Keluarga, teman, bahkan Tuhan.
Masalah merupakan suatu jalan yang dianugerahkan oleh Illahi bagi kita. Anugerah yang bisa mendekatkan lagi kita kepada orang-orang disekitar kita. (*bukan maksudnya bermasalah dengan orang-orang disekitar kita*). Masalah yang berat sering kali tidak bisa hanya dihadapi seorang diri. Bantuan orang lain akan sangat membantu, meskipun hanya sebagai pendengar yang baik. Sisi positif satu inilah yang bisa diambil ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Rasa saling membutuhkkan dan bantu membantu akan timbul.
Banyak orang yang sangat tidak peka dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi secara reflek dan tanpa sadar akan membantu baik dana, tenaga, usaha jika ada suatu bencana atau musibah. Banyak tangan-tangan dermawan mendadak ketika terjadi suatu bencana. Banyak hati tiba-tiba merasa iba ketika melihat keadaan yang begitu miris (*menyedihkan*).
Banyak juga kaum manusia yang tiba-tiba saja ingat kepada Rabb-nya ketika tertimpa suatu masalah. Sakit misalnya. Banyak orang tiba-toba berdoa kepada Tuhannya agar cepat-cepat disembuhkan dari sakit. Padahal selama sehatnya tidak pernah atau jarang dia mengingat Tuhannya. Banyak juga orang yang tiba-tiba rajin beribadah ketika sedang mengalami kesulitan (*keuangan misalnya*) dengan harapan bisa mendapat kelonggaran rezeki. Banyak juga orang yang tiba-tiba menjadi rajin bangun malam dan memohon dalam tangis kepada Rabbnya ketika ia memiliki keinginan yang harus terwujud dalam waktu dekat.
Salah satu jalan inilah yang ditempuh oleh Dzat Pemberi Hidup untuk mendekatkan manusia lagi kepada jalan yang seharusnya. Dan jalan ini jugalah yang membuktikan bahwa Tuhan masih memperhatikan kita. Selalu menginginkan kita untuk bisa naik derajat baik di mata manusia maupun di sisi-Nya.
Semoga bermanfaat.

24 Januari 2012

0 Di Mulainya Semester 4

Aku, Semester 4, dan 27 SKS

Departemen Ilmu Komputer, tidak terasa sudah aku jajaki selama satu semester. Semester tiga sudah berakhir dengan berakhirnya Ujian Akhir Semester (*biasanya diplesetin jadi Ujian Agak Serius*) kemaren 11 Januari 2012. Semua mahasiswa Ilkom 47 (*yang menyebut diri kami PIXELS 47*) sudah bisa lega semenjak saat itu. Meskipun masih was-was dan deg-degan ga jelas karena menunggu “Sang Nilai” keluar dari peraduannya. Menurut aturan dan janji (*kontrak kuliah*) tepatnya, nilai UTS (*plesetanya Ujian Tidak Serius*) atau UAS sudah bisa dilihat maksimal 2 minggu setelah ujian, namun buktinya, banyak mata kuliah yang pengumuman nilainya memang 2 minggu, tetapi sebelum UAS (*pengalaman pada UTS*).

Tetapi tidak apalah, nilai itu sebuah hasil, yang penting kan prosesnya sudah terlampaui. Usaha dan Doa sudah dijalani semenjak menginjakkan kaki di semester 3. Untuk hasil tinggal menyerahkan pada Dzat Pemberi Hidup. Tetapi yang kadang sering menyesakkan hati adalah ketika kita melihat teman kita hasilnya lebih baik dari kita padahal usaha (*yang dia perlihatkan*) lebih minim dari kita. Walau tidak boleh berburuk sangka pada orang sebenarnya. Mungkin saja orang itu belajarnya memang bukan untuk ditunjukkan pada orang lain, jadi secara diam-diam saja.
Tapi apapun itu, yang pasti itu masa lalu, semester 3 sudah lewat. Tinggal menyongsong semester 4 yang sudah di depan mata. Berbicara tentang semester 4 ada beberapa tanggal penting sebelum menginjakkan kaki di semester 4.
23 – 25 Januari 2012 : Uji Coba KRS Online
30 Januari – 4 Februari 2012 : Perwalian / Bimbingan Akademik
6 – 9 Februari 2012 : KRS A Online
Berhubung sekarang tanggal 24 Januari 2012 maka yang akan sedikit di ulas adalah Uji Coba KRS Online (*kebetulan juga baru saja melakukannya*). Uji Coba KRS Online, layaknya sebuah uji coba, maka dalam tahap ini hanya ada simulasi-simulasi untuk persiapan pengisian KRS Online yang sebenarnya. Untuk sebagian besar Ilkom 47, Semester 4 mungkin tidak jauh berbeda dengan semester 3 kemarin. Karena waktu melihat mata kuliahnya juga tidak jauh berbeda kuantitaifnya dibanding semester lalu. Meski diakui lumayan banyak praktikum pada semester ini.
Tapi sebelum itu, sewaktu membua KRS yang dibingungkan bukanlah mata kuliah mayor, tetapi adalah mata kuliah minor (*Alhamdulillah bisa mengambil minor Ekonomi Syariah*). Mengapa???
Mata kuliah mayor (*+interdept*) seperti biasa hanya mencapai angka 18 sks seperti semester ganjil kemaren (*meski sudah dibilang, lumayan dapat banyak tambahan praktikum*) jadi wajar dan bisa diambil semua pada semester itu. Yang menjadi keheranan adalah mata kuliah minor, ada 9 SKS. Dan berarti kalo mau di ambil semua bakal bisa mencapai rekor yaitu 27 SKS (*padahal batas ambang maksimum adalah 25 SKS*).r
Keheranan inilah yang sedikit menjadi bahan pemikiran ketika mengambil mata kuliah. Mengutamankan mayor + interdept atau minor???
Bagi sebagian besar orang (*mahasiswa dan ditambah sugesti dosen*) mata kuliah yang harus diutamakan adalah mata kuliah mayor (*wajar*), interdept, baru minor dan atau supporting course. Alasannya adalah bahwa mayor merupakan mata kuliah inti dan akan menjadi keahlian utama jadi harus dikuasai sebelum yang lain-lainya, sedangkan interdept adalah bekal penunjang untuk mencapai keahlian mayor (*meski dirasa ada yang berbeda dari harapan itu*). Sedangkan minor adalah keahlian pendukung sehingga prinsipnya kalau memang bisa diambil berarti diambil, kalaupun belum bisa ditunda.
Tetapi ada juga sebagian besar juga yang berasumsi bahwa mayor bisa juga diambil nanti, seandainya tidak menjadi prasyarat mata kuliah di semester depannya (*tetapi sebagian besar mayor menjadi prasyarat*). Mata kuliah interdeptpun sama demikian, dan lebih longgarnya karena tidak menjadi prasyarat mata kuliah berikutnya. Dan akhirnya bisa mengutamakan mata kuliah minor.
Alasannya adalah bahwa kalau itu bukan mata kuliah prasyarat semester depannya maka bisa diambil nanti, mengingat mayor adalah hak kita, sehingga kita bisa menganggap bahwa kita adalah anak mereka. Sebagai seorang anak, sepertinya tidak mungkin ditelantarkan begitu saja oleh departemen sehingga tidak akan lebih sulit jika mengambil di semester lain. Interdept juga bisa di tunda (*apalagi yang ada di semester genap maupun ganjil*). Sedangkan minor, banyak beranggapan kalo mengambil minor ibarat menumpang di rumah saudara. Meskipun tidak akan ditelantarkan, jika ada beberapa urusan yang harus diurus akan lebih rumit. Sehingga bisa diutamakan.
Sekarang yang dibingungkan adalah mau berapa SKS kah yang diambil???
Apakah mau tetap nekat mengambil 27 SKS?? (*yang kemungkinan besar imposible*)
Apakah mau menunda satu mata kuliah??? (*yang berarti 24 SKS*)
Apakah malah diharuskan hanya bisa mengambil satu mata kuliah minor??? (*karena saran dari dosen pembimbing*)
Dilema yang mungkin dialami bagi sebagian kecil (*6 PIXELS 47 yang mengambil minor Ekonomi Syariah*) Ilkom 47. Semua orang punya hak prerogative sendiri-sendiri untuk memilih. Dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran mungkin pilihan itulah yang akan diambil. Tetapi apapun pilihannya nanti, mungkin (*dan harapannya*) itulah yang bakal terbaik untuk dijalani.
Semoga.

0 Logo Ikamabara (ikatan keluarga mahasiswa banjarnegara)



dalam persetujuan... :D
 

Simple Note Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates