Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

5 Agustus 2012

0 Mujab dan Samir


Mujab dan Samir telah berkelana menggelandangi gurun dan kota untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Namun karena ketidakahlian mereka pada bidang yang sedang dibutuhkan disuatu kota, membuat mereka belum mendapatkan pekerjaan sampai kota terakhir. Dalam perjalanan dari kota tersebut,
Mujab berkata, “Kalau bukan karena kamu, kita pasti sudah bisa mendapatkan pekerjaan dikota tadi”.
“Tapi kan mereka membutuhkan seorang dokter, dan kita tidak tahu menahu masalah penyakit dan obat-obatan”, sahut Samir.
“Tapi kan mereka juga tidak tahu kalau kita bukan dokter? Pokoknya dikota terakhir nanti kita harus bilang iya (bisa) jika ada orang yang menawarkan pekerjaan”, Mujab bersikukuh.
Tanpa disadari karena Samir terlalu memperhatikan Mujab, tanpa mereka tahu kereta kuda yang mereka naiki hampir menabrak papan penunjuk jalan. Dan “gubrak”. Mereka menabrak papan itu, dan papannya benar-benar rubuh.
“Hei lihat Samir, kamu menabrak papannya”, nada Mujab agak kesal.
“Ya sudah ayo lanjutkan perjalanan ke kota Basrah setelah memberdirikan papannya lagi”.
Akhirnya Mujabpun memberdirikan seperti semula.
“Sudah biar aku yang mengendarai sekarang”, Mujab mengambil alih kemudi.
Dan merekapun melanjutkan perjalanan ke kota Basrah. Tetapi tanpa mereka sadari, ternyata papan jalan yang mereka pasang terbalik. Sehingga 2 orang petugas hukum yang akan menuju kota Basrah salah arah.
Mujab dan Samirpun tiba di Kota Basrah. Setiba mereka, ada beberapa kawanan perampok yang sedang merampok bank kota. Karena ketidakberdayaan warga, mereka hanya dibiarkan mengambil uang simpanan.
“Mana petugas hukum yang dijanjikan sang Raja???”, teriak pemilik bank tersebut.
Seorang anak kecil yang melihat Mujab dan Samir tiba-tiba bertanya pada keduanya.
“Andakah petugas hukum yang diutus sang Raja ke kota kami?”
“Emh.. bukan... ya...”, jawab Samir ragu-ragu.
“Sudah iyakan saja, demi pekerjaan kita”, bisik Mujab.
“Iya kami petugas hukum yang diutus sang Raja”, Samir menjadi pasti.
“Sebentar saya panggilkan pak Walikota”, ucap anak kecil tersebut sambil berlari menuju tempat walikota.
Dan tibalah walikota di tempat Mujab dan Samir berada.
“Silakan... silakan.. Selamat datang di kota kami. Ya sudah kalo begitu, kalian mau digaji berapa? 500 keping uang emas tiap bulan?”, sambut walikot dan tanpa basa-basi.
“500???”, ucap Mujab heran karena besarnya.
“emh, baiklah, kalian akan kami gaji 1000 keping uang emas. Na mari singgah di tempat saya terlebih dahulu.”
Maka merekapun beristirahat dulu di tempat walikota. Dan pada malam hari itu, diadakan pesta penyambutan untuk keduanya. Makan mewah dan banyak hiburan.
Dan fajarpun tiba.
“Permisi wahai petugas hukum, sudah saatnya”, teriak salah satu penduduk yang memanggil mereka berdua yang sedang tidur ditempat yang sudah disediakan untuk mereka.
“Sudah saatnya untuk apa???”, tanya Samir bingung.
“Sudah, ayo kita ikuti saja kehendak mereka. Biar mereka tidak curiga.”
Dan merekapun mengikuti warga  yang membawa mereka ke suatu tempat. Di tengah gurun pasir dan diatas bukit yang dibangun gedung seperti altar pemujaan bangsa Mesir. Dan ternyata disitulah kawanan perampok itu bersembunyi.
Dan dengan tiba-tiba, walikota berteriak, “wahai kalian para perampok kota, sudah saatnya kalian ditangkap. Bersiaplah.”
Mendengar hal itu, pemimpin perampok tersebut mendekati mereka dan berkata dengan nada menyindir, “Ditangkap??? Siapa yang akan menangkap kami?”
Serentak warga menunjuk ke arah Mujab dan Samir. Lantas, pemimpin perampok menghampiri Mujab dan Samir, “Jadi kalian petugas hukum yang baru untuk kota ini?”
Dan memang dasar penakut dan tidak pandai berkelahi, Mujab dan Samirpun kabur tunggang langgang. Yang akhirnya disusul oleh warga.
“ha...ha...ha... bawalah petugas hukum yang mana saja yang kalian suka. Tangkap kami kalo memang berani”, pemimpin perampok itu tertawa senang.
Dan akhirnya karena kegagalan, Mujab dan Samir angkat kaki dari Kota Basrah dengan diiringi tatapan kecewa dan marah para warga.
Sehari berselang, kawanan perampok itu kembali mulai merampok Kota Basrah. Tapi tanpa disangka-sangka, ada beberapa orang yang dengan lincah dan sigapnya melawan mereka. Dan akhirnya semua perampok berhasil dibekukan.
“Wahai saudara, kalian ini siapa?”, tanya walikota Basrah.
“Kami adalah petugas hukum yang diutus sang Raja. Tetapi karena papan jalan tertabrak oleh mereka, dan mereka salah membenarkan, kami jadi tertunda sampai disini”, jawab salah satu dari penyelamat tadi sambil berpaling ke arah Mujab dan Samir.
“Syukurlah akhirnya kalian benar-benar datang. Kami sangat mengharapkan orang seperti kalian di kota ini”.
“Tapi kami harus membawa dan mengadili para perampok ini di kerajaan”.
“Terus siapa yang akan jadi petugas hukum kami?”, walikota bingung.
“Saya rasa sudah ada yang berbakat dan pantas menjadi petugas hukum”.
“Siapa?”, walikota bertanya lagi.
“Mereka berdua”. Sambil menunjuk ke arah Mujab dan Samir.
“Tapi kan kami tidak tahu apa-apa dan kami juga tidak punya keberanian untuk menghadapi perampok seperti itu.”, jawab Samir.
“Keberanian kalian datang ke kota ini sudah cukup membuktikan kalian lebih berani daripada petugas hukum yang sudah-sudah.”, jawab sang walikota sambil tersenyum.
Akhirnya petugas hukum kerajaan kembali ke kerajaan untuk membawa dan mengadili para perampok tersebut. Dan Mujab berserta Samir diterima dengan baik menjadi petugas hukum yang baru oleh warga sekitar. Dan semenjak itu, mereka menjadi benar-benar petugas hukum yang adil dan bijak. Dan karenanya, semenjak itu tidak ada lagi terdengar dan terjadi kasus perampokan maupun tindak kriminal lain.
Semoga bermanfaat.

0 QOSIM DAN SEPATU USANG


Tersebutlah Qosim, seorang saudagar kaya yang sedang menikmati hasil jerih payahnya di masa muda. Namun sayang, sifat Qosim tidak sedermawan yang diharapkan dari seorang saudagar muslim kaya. Pernah suatu saat, ada seorang nenek yang menawarkan dagangan kepadanya di depan rumahnya, bukannya dibantu dengan membelinya, dia malah mengusir nenek itu, “Hei nek, minggir kau. Aku mau masuk rumah”. Dan akhirnya Qosim tetap menjalankan kereta kudanya masuk rumah dan hampir menabrak nenek tersebut.
“Selamat siang dan selamat datang Tuan”, sambut tukang kebun Qosim yang disebut Nazim.
“Siang Nazam”, jawab Qosim. Dia agak sedikit peduli pada tukang kebunnya karena sudah mengabdi 30 tahun.
“Nazim tuan.”, Nazim membenarkan.
“Iya...iya... cerewet. Nazim apa yang masih kau pakai dikakimu itu?”, melihat sepatu kotor dan tercium bau tak sedap.
“Sepatu saya tuan, dia telah menemani saya 30 tahun bekerja disini.”
“Sudah buang saja sana. Kotor begitu dan juga udah sangat usang.”
“Tapi ini sudah menemani saya sejauh ini tuan. Sayang kalau dibuang”.
“Karena udah lama itu, maka sepatu itu perlu dibuang.”
Dan beberapa waktu, Nazim meninggal dunia. Dan dipagi-pagi buta, pintu rumah Qosim diketuk.
“Siapa ya?”, Qosim bertanya.
“Perkenalkan, saya pengacara yang mewakili almarhum Nazim. Beliau meninggalkan warisan untuk Anda”, jawab orang yang mengetuk pintu yang ternyata memang pengacara.
“Warisan? Apakah itu? Uang Emas? Perak?”
“Bukan. Warisan almarhum Nazim untuk Anda adalah ini”, sambil menyodorkan sepatu kotor, usang, dan bau yang biasanya dikenakan oleh Nazim.
“Euh... apa-apan itu? Bawa pergi saja. Buang saja.”, cela Qosim jijik melihat sepatu itu.
“Tidak bisa, ini adalah hak milik Anda. Jadi silakan dijaga dan dirawat.”
Dan akhirya setelah menyerahkan sepatu itu, pengacar tersebut pergi dari rumag Qosim.
“Warisan macam apa ini?”, cela Qosim. Dan dengan ringan tangan, dia melemparkan sepatu itu keluar rumahnya.
Namun naas, sepatu itu mengenai seorang yang sedang berjalan di depan rumahnya. Dan akhirnya perkaranya dibawa ke pengadilan.
“Saudara Qosim, Anda diharuskan membayar denda sebesar 250 keping uang emas untuk biaya pengobatan korban.”, hakim pengadilan memutuskan.
“Apa? 150 keping uang emas?”, Qosim protes.
“Dan tambahan 250 keping uang emas karena berusaha melawan hukum.”
Akhirnya dengan jengkel, Qosim membayar uang denda itu. Dalam perjalan pulang, ada yang berteriak, “Pak Qosim, Pak Qosim. Ada barang Anda yang tertinggal di pengadilan”.
Dan akhirnya sepatu itu kembali ke Qosim. Untuk membuangnya lagi, maka Qosim pergi ke pelabuhan. Disana dia melihat orang memancing dan melewati mereka saja untuk membuang sepatunya. Dan “byur” sepatu itu terbuang kelaut. Tapi naas lagi, ternyata sepatu itu terkait di turbin (mesin) kapal. Sehingga kapal lepas kendali dan menabrak pelabuhan.
“Saudara Qosim, Anda diharuskan membayar denda 500 keping uang emas untuk perbuatan Anda.”, hakim memutuskan.
“Tapi,,?”, belum selesai sudah dipotong oleh hakim.
“Dan menjadi 100 keping karena Anda berusaha melawan keputusan hukum untuk kedua kalinya”.
Dan lagi-lagi dengan jengkel Qosim membayar denda itu. Kebingungan mau dibuang kemana lagi, akhirnya terpikir oleh Qosim, “kenapa tidak aku bakar saja sepatu itu?” Dan akhirnya malam harinya, dia sudah menyiapkan perapian seperti api unggun untuk membakar sepatu itu. Dan nasib memang berkata lain, dalam keadaan sedikit terbakar, ada seekor burung yang mengambil sepatu itu dan membawanya terbang. Karena kesal, Qosim melempari burung itu dengan kayu diperapian itu. Dan “bruk” kayu itu mengenai burung itu. Tetapi tanpa sadar, beberapa kayu yang dilemparnya terlebih dahulu malah tersangkut di rumah. Dan “wush”, api tiba-tiba muncul dari rumahnya.
Kontan dia berlari ke dalam rumah untuk memadamkannya. Tetapi api semakin membesar. tiang-tiang roboh. Kaca jendela pecah. Dalam keadaan panik karena jalan keluar tertutupi pecahan kaca Qosim tidak memakai alas kaki, tiba-tiba dia ingat kalau dtangan kanannya ada sepasang sepatu yang tadi kontan diambilnya saat masuk dalam rumah. Dan tanpa ragu-ragu akhirnya dia memakai itu untuk melarikan diri dari kobaran api.
Dan, hanya dalam hitungan menit, rumah Qosim terlahap api yang ganas itu. Untungnya rumahnya terdaftar di asuransi, sehingga biaya renovasi rumahnya ditanggung pihak asuransi. Dan selesai perbaikan rumah, Qosim melihat menyadari lagi kehadiran sepatu usang dan kotor itu. Dia berniat membuangnya ke tong sampah. Tapi dalam hati,
“Tetapi sepatu pemberian Nazim inilah yang sudah menyelamatkan hidupku, sehingga sudah sepantasnyalah aku tidak membuangnya”.
Dan semenjak saat itu, Qosim memakai sepatu itu kemanapun dia pergi dengan bangganya. Maka sejak saat itu, tersebarlah kisah “QOSIM DAN SEPATU USANG”.

17 Juli 2012

0 Puasa Lapar??? Bantai....


Akhirnya dapet inspirasi juga. “knapa ga menulis tentang ramadhan???” kan bentar lagi bulan ramadhan. Tapi apa yang mau ditulis tetep aja masih bingung. Ngeliat image yang lumayan chibi di google image malah jadi pengen ngulas mengenai itu. Padahal katanya pengen ngulas tentang ramadhan. Tapi karena yang lebih ahli pasti sudah lebih banyak, mending mbahas sesuatu yang lain.
Pasti banyak yang udah ngepost bagaimana mempersiapkan diri menyambut ramadhan baik dari segi fisik maupun rohani. Karena gw ga punya dasar yang cukup mengenai itu, jadi gw ga bakal mbahas itu.pet inspirasi juga. “knapa ga menulis tentang ramadhan???” kan bentar lagi bulan ramadhan. Tapi apa yang mau ditulis tetep aja masih bingung. Ngeliat image yang lumayan chibi di google image malah jadi pengen ngulas mengenai itu. Padahal katanya pengen ngulas tentang ramadhan. Tapi karena yang lebih ahli pasti sudah lebih banyak, mending mbahas sesuatu yang lain.
Yang mau gw bahas adalah APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA LAPAR KARENA PUASA???
Yoooossshhh... kalo puasa, gak bisa dipungkiri kita puasa mesti merasa lapar. Wajar saja, soalnya kita hanya makan dan minum di saat sahur. Selebihnya tidak diperbolehkan karena akan membatalkan puasa kita. Mungkin bagi sebagian besar orang yang sudah terbiasa hal ini tidak akan jadi masalah ketika harus makan sehari sekali pas sahur aja. Tapi sebagian besar orang adalah orang yang terbiasa makan 2 ato 3 kali sehari secara teratur. Sarapan pagi, makan siang, makan malam dan cemilan-cemilannya. Na untuk golongan ini pasti ketika hanya makan di saat sahur akan “kelaparan”.
Karena puasa itu suatu ibadah yang diwajibkan dan pahalanya terlampau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Karena puasa itu suatu ibadah yang diwajibkan dan pahalanya terla
mpau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Karena puasa itu suatu ibaah yang diwajibkan dan pahalanya terlampau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Mungkin hal-hal berikut bisa dilakukan untuk mengurangi rasa lapar.
1. Internetan
Yooossshhh... hal yang satu ini bisa dibilang makanan wajib buat anak-anak ilkom. Tanpa internet, mungkin bisa jadi mereka bukan siapa-siapa. Tapi tenang, bukan untuk mencari bahan tugas atopun refferensi kodingan sekedar ingin “keppo” ma sesuatu kodingan. Tapi yang bisa dilakuin saat kita berpuasa adalah melakukan something yang menyenangkan di internet. Seperti browsing be
rita dan informasi maupun surfing di websitenya, download file-file yang menyenangkan seperti installer game, film maupun document penting, atau juga bisa ngegame online.
2. Ngegame PC

Kalo yang satu ini bisa dibilang jantungnya anak ilkom. Anak ilkom tanpa ngegame ibarat kata “sesuatu banget” kata syahrini. Ya meski level ngegame orang-orang berbeda. Mulai dari game bawaan windows sampe game yang membutuhkan hampir separo dari kapasitas RAM PC / Laptop yang berkapasitas 4gb. Meski game udah sampe ada yang 3D tapi tidak dapat dipungkiri bahwa game-game lama juga masih banyak diminati, mulai dari mario, yugioh maupun pokemon yang emulatornya make file gba.
3. Ngegame
Na kalo yang tadi ngegame di PC, bisa juga ngegame di dunia nyata. Maksudnya bukan PC atopun online. Tapi lebih ke game beneran game. Siapa tahu main futsal, badminton, maupun berbasket ria. Memang kelihata
nnya menguras banyak tenaga, tapi kalau memang suka olahraga dan dijalani dengan senang hati, maka laparnya puasa bisa ga berasa.
4. Mbaca Komik
Kalo yang satu ini adalah kegiatan bagi orang-orang yang memang “males” buat melalukan hiburan fisik ato bagi memang orang suka ato maniak mbaca. Tidak hanya komik, novel maupun berita-berita juga bisa menjadi refferensi yang dianjurkan. Apalagi kalo menunggu waktu berbuka puasa yang biasanya terasa lebih lama.
5. Menulis
Mungkin hal ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Bukan berarti semua orang ga bisa menulis. Tetapi sebagian besar orang lebih preffer untuk tidak menulis suatu karya. Entah artikel atopun suatu cerita. Tapi bukan berarti hal ini tidak menyenangkan. Banyak orang yang memang benar-benar hobi menulis, jika sudah terlantun menuliskan ceritanya, ibarat dia sudah punya dunia sendiri dan ga mau kalau diganggu. Menikmati dunianya istilahnya.
6. Bermusik
Kalo hal yang satu ini, mungkin banyak
yang suka. Bukan berarti harus memainkan musik. Tetapi bisa menyanyi bersama ato solo vokal juga bisa. Sampai kalo bisa juga memainkan alat musiknya sendiri. Tentunya hal ini juga tergantung prefferensi orang mau kemana. Kalo suara bagus memang biasanya dengan Pdnya nyanyi ga peduli sekitar. Tetapi buat yang kurang bagus juga ga dilarang buat melakukan satu hal itu. Apalagi kalo bersama-sama. Intinya have fun aja.
7. Nonton Film
Na kalo ini mesti banyak yang suka. Mulai dari anak-anak sampe nenek dan kakek-kakek. Meski prefferensi tontonannya berbeda-beda. Mulai dari anime / kartoon yang super kocak yang anak-anak suka, sampai acara sinetron yang dari anak kecil mpe nenek-nenek juga suka. Tapi kalau usia remaja dan dewasa, lebih preffer ke dunia yang mistis, scienci, dan action, ato juga komedi. Tapi apalah itu, yang penting nonton.
Mungkin memang ga semua bisa dituliskan disini sarannya. Mungkin banyak juga orang yang punya cara sendiri untuk menghilangkan ke BT an gara-gara menahan lapar di saat puasa.
“Intinya mah lakuin sesuatu yang membuat kita have fun aja, menikmati waktu yang ada, insyaallah puasa gak akan berasa lapar.”
Semoga bermanfaat.




27 Januari 2012

0 Peringatan Hidup: Cobaan, Hikmah, dan Illahi


Bagi sebagian besar orang, hidup itu seperti roda. Berputas terus berputar sampai tidak bisa berputar kembali. Kadang di atas, kadang di bawah. Roda sering juga tidak hanya melewati jalanan yang jalanan yang mulus. Jalan berbatu dan berduri sering kali terlewati.
Bagi sebagian besar orang juga, hidup itu seperti berjalan ke puncak gunung. Ketika masih di lembah jalanan masih datar dan mudah di lalui. Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin curam dan resiko untuk jatuh semakin besar juga. Bahkan tidak hanya itu, terpaan angina juga semakin kencang.
Itulah hidup. Tidak selamanya kita mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Tetapi sering juga kita merasakan sisi pahitnya kehidupan. Yang mungkin sampai untuk beberapa orang, kematian lebih dipilihnya. Hidup yang berjalan, senantiasa menuju kedewasaan (*kata seorang teman, seperti anak kuliah yang akan naik tingkat*). Pada saat anak-anak, masih hanya terpikir untuk bermain dan meminta kepada orang tua. Sedikit mulai dewasa, mulai adanya rasa malu ketika hanya bisa meminta dan meminta tanpa bisa memberi. Sampai pada suatu saat, bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang kita cintai. Tetapi proses menuju itu tidaklah mudah. Seperti seorang pendaki, semakin naik ke atas gunung, semakin kencang juga terpaan anginnya. Sama halnya dengan hidup, semakin kita menuju kedewasaan (*tidak hanya fisik, tetapi jiwa dan akal*) semakin besar juga ujian yang kita hadapi.
Ujian (*masalah*) bisa datang dalam berbagai bentuk laksana air yang punya tiga wujud. Dari yang paling keras yaitu es, berubah mencair dan akhirnya berubah menjadi uap yang siap mengudara. Mulai dari masalah yang sangat ringan sampai-sampai kita tidak sadar bahwa itu adalag suatu bentuk ujian. Masalah sedang yang kita secara sadar merasakan akibat yang kurang bersahabat pada kita dan berusaha untuk memecahkan dan melaluinya. Sampai masalah yang begitu berat yang kadang sampai bisa membuat hidup berasa tidak ada artinya lagi. Ataupun masalah yang kelihatannya kecil walaupun sebenarnya membawa dampak besar bagi kehidupan kita.
Mungkin banyak orang yang bertanya mengapa harus sering mendapat masalah (*cobaan*) yang begitu berat.???
Mungkin juga akan sangat banyak jawaban dan penafsiran yang lebih bijak.
Masalah hadir dalam kita ibarat garam dalam masakan. Masakan akan hambar tanpa garam. Begitu juga kehidupan. Hidup akan statis jika tidak ada yang bisa membuat kita berubah (*naik tingkat*). Salah satu jalan untuk menaiktingkatkan derajat kita adalah dengan masalah. Jika bisa melalui masalah tersebut maka derajat kita akan naik. Yang dimaksudkan adalah jika suatu saat kita menghadapi masalah yang sama atau mirip maka sudah akan bisa tahu cara penyelesaiannya.
Banyak juga orang yang lupa diri (*baik kepada orang-orang disekitarnya bahkan kepada Tuhannya*) ketika dalam keadaan bahagia. Yang terpikirkan adalah untuk menikmati kebahagiaan dari hasil kerja keras yang telah dilakukannya. Menikmatinya sebelum kebahagiaan itu pergi darinya. Sehingga banyak aspek yang cenderung luput darinya. Keluarga, teman, bahkan Tuhan.
Masalah merupakan suatu jalan yang dianugerahkan oleh Illahi bagi kita. Anugerah yang bisa mendekatkan lagi kita kepada orang-orang disekitar kita. (*bukan maksudnya bermasalah dengan orang-orang disekitar kita*). Masalah yang berat sering kali tidak bisa hanya dihadapi seorang diri. Bantuan orang lain akan sangat membantu, meskipun hanya sebagai pendengar yang baik. Sisi positif satu inilah yang bisa diambil ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Rasa saling membutuhkkan dan bantu membantu akan timbul.
Banyak orang yang sangat tidak peka dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi secara reflek dan tanpa sadar akan membantu baik dana, tenaga, usaha jika ada suatu bencana atau musibah. Banyak tangan-tangan dermawan mendadak ketika terjadi suatu bencana. Banyak hati tiba-tiba merasa iba ketika melihat keadaan yang begitu miris (*menyedihkan*).
Banyak juga kaum manusia yang tiba-tiba saja ingat kepada Rabb-nya ketika tertimpa suatu masalah. Sakit misalnya. Banyak orang tiba-toba berdoa kepada Tuhannya agar cepat-cepat disembuhkan dari sakit. Padahal selama sehatnya tidak pernah atau jarang dia mengingat Tuhannya. Banyak juga orang yang tiba-tiba rajin beribadah ketika sedang mengalami kesulitan (*keuangan misalnya*) dengan harapan bisa mendapat kelonggaran rezeki. Banyak juga orang yang tiba-tiba menjadi rajin bangun malam dan memohon dalam tangis kepada Rabbnya ketika ia memiliki keinginan yang harus terwujud dalam waktu dekat.
Salah satu jalan inilah yang ditempuh oleh Dzat Pemberi Hidup untuk mendekatkan manusia lagi kepada jalan yang seharusnya. Dan jalan ini jugalah yang membuktikan bahwa Tuhan masih memperhatikan kita. Selalu menginginkan kita untuk bisa naik derajat baik di mata manusia maupun di sisi-Nya.
Semoga bermanfaat.

24 Januari 2012

0 Belajar Bijak


Aku, Al Qur’an dan Allah SWT

Sesungguhnya manusia yang sudah diciptakan di dunia ini harus bersyukur kepada Rabb-nya. Manusia sudah diciptakan menjadi makhluk yang paling sempurna, baik raga maupun akal dan pikirannya. Tiada ciptaan lain yang bentuk raganya melebehi indahnya bentuk raga manusia. Spesifikasi-spesifikasi organ-organ tubuh beserta fungsi yang telah diciptakan Sang Pemberi hidup sungguhlah amat sesuai dengan yang kita butuhkan. Dan juga tiada ciptaan Allah lain yang diberi karunia akal dan pikiran sesempurna manusia. Memang ada hewan yang cerdasnya hampir mendekati manusia, tetapi dia tidak dikaruniai sebuah esensi yang berharga yaitu perasaan. Begitu juga malaikat dan iblis, malaikat hanya dikarunia sifat tunduk dan patuh pada Rabb-nya sedangkan iblis yang dulunya seperti malaikat hanya karena secuil rasa sombong di hati telah 180 derajat menjadi makhluk yang sangat di benci oleh Rabb-nya.

Berbicara masalah akal dan pikiran, manusia dikarunia oleh Allah untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, mana bijak dan mana yang tidak bijak. Semua itu semata-mata diberikan agar manusia bisa menjadi makhluk yang akan menjadi lebih mulia dari malaikat, tetapi bagi yang salah jalan maka akan bisa menjadi lebih hina daripada iblis sekalipun.

Lalu jalan apakah yang bisa diambil untuk bisa mencapai derajat itu?

Telah banyak ajaran dan tuntunan yang diberikan oleh Nabi kita, Muhammad SAW untuk menjadi manusia yang mulia. Al Qur’an dan al Hadits adalah sesuatu yang mutlak harus dipegang teguh sebagai pedoman hidup dan visi ke depan. Ajaran yang begitu indah dan selaras dengan kehidupan umat manusia yang memang penuh lika-liku ini. Ajaran yang akan bisa membawa kedamaian bagi yang mengikutinya. Ajaran yang bisa membawa cahaya kearifan bagi seluruh umat manusia. Ajaran yang begitu sempurna.

Rasulullah SAW telah banyak mengajarkan kita untuk selalu menjaga hati kita agar selalu mengikuti jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT agar hidup kita kelak menjadi hidup yang bahagia, tidak hanya di dunia tetapi juga di alam sesudahnya. Rasulullah juga telah banyak meneladankan kepada kita uswah-uswah yang begitu indah kalau kita jalankan, sampai-sampai Allah SWT memberi gelar kepada beliau sebagai “al Qur’an yang berjalan” karena sifat-sifat dan keseharian beliau yang memang selaras dan serupa dengan apa yang sudah diajarkan dalam al Qur’an.

Lalu banyak orang yang bertanya, apakah kita bisa menjalankan semua yang ada dalam al Qur’an dan al Hadits layaknya Rasullah SAW, sedangkan kita hanya manusia biasa???
Hikmah dan kebaikan yang ada dalam al Qur’an dan al Hadits akan sangat membawa manfaat dan kebaikan bagi pengamalnya. Apalagi kalau bisa menjalankan semua yang diajarkan dalam al Qur’an, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Banyak ayat-ayat dalam al Qur’an yang secara langsung mengajarkan kepada kita apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, seperti perintah sholat, puasa, zakat, haji, infaq, maupun hubungan yang bersifat muammalah. Banyak juga ayat al Qur’an yang mengajarkan kepada kita apa yang dilarang dan tidak disukai oleh Allah SWT, seperti judi, mabuk-mabukan, zina, dan semua hal-hal yang menjurus kepada sesuatu yang membawa kemadlaratan.

Namun disamping itu, banyak juga ayat-ayat dalam al Qur’an yang mengisyaratkan kepada kita tetapi tidak secara langsung tetapi dengan makna yang tersirat, seperti melalui perumpamaan, kebalikan dari yang diperintah atau dilarang, maupun sejarah masa lalu. Untuk bisa memahami semua makna itu maka perlu dikaji secara mendalam, yang tidak semua orang bisa.
Lalu apakah bagi yang tidak bisa menafsirkan berarti lepas dari kewajiban menjalankan???
Itu adalah pemikiran yang salah. Bukan berarti karena kita mempunyai keterbatasan menafsirkan lalu kita lepas begitu saja dari tanggung jawab. Banyak ulama-ulama yang sudah menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dan al Hadits. Walaupun belum tentu 100% yang ditafsirkan para ulama sesuai dengan yang diinginkan oleh Rabb pemberi hidup tetapi setidaknya kesalahan menjadi semakin kecil. Orang yang tidak mempunyai keahlian tetapi berusaha dan memaksa memahami ayat al Qur’an yang tersirat maknanya, kemungkinan besar akan menuju dan terjerembab ke dalam skeptisme dan fanatisme pemikirannya sendiri. apa yang ditafsirkan disesuaikan dengan pemikiran dan kehendaknya. Hal seperti inilah yang tidak diinginkan dalam pemikiran umat muslim.

Sehingga sebagai orang awam yang masih sedikit sekali mehamami Islam secara menyeluruh dan bekal bahasa arab yang sangat minim, kuranglah pantas jika berusaha menafsirkan makna yang terkandung dalam ayat al Qur’an yang tersirat. Sifat memaksakan diri tidak disukai Allah SWT. Karena Allah SWT sendiri meberi kita ujian sesuai kemampuan kita, sehingga kita tidak mungkin dipaksa untuk bisa melalui sesuatu yang tidak bisa kita lalui. Begitu juga kita tidak mungkin dipaksa untuk memahami seluruh ayat al Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Secuil hikmah saja diamalkan dari ayat al Qur’an dan menjauhi apa yang dilarang dan tidak disukai Allah SWT pasti sudah akan membawa dampak yang sangat besar dalam hidup kita. Apalagi ditambah dengan mengamalkan apa yang sudah dianjurkan oleh Rasul kita.
Tetapi yang tidak boleh dilupakan, walaupun kita tidak harus bisa memahami seluruh ayat al Qur’an, tetapi yang masih wajib pada diri kita adalah berusaha memahaminya. Allah tidak hanya menilai hasil tetapi yang lebih besar adalah proses. Sehingga akan sangat bermanfaat bila kita selalu berusaha dan belajar untuk mehami al Qur’an dan al Hadits dalam hidup kita walaupun pada akhirnya hasil yang kita dapatkan kurang sesuai dengan yang kita harapkan.


Semoga bermanfaat.
 

Simple Note Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates