Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

7 Agustus 2012

0 Sinopsis dan Download Mahabharata


Untuk download ebooknya, silakan klik link dibawah ini


Diceritakan ada dua bersaudara putra seorang maharaja, yaitu Dritarastra dan Pandu. Dritarastra, si putra sulung, terlahir buta. Karena cacat, menurut kepercayaan Hindu ia tidak bisa dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Sebagai gantinya, Pandu si putra bungsu dinobatkan menjadi raja. Dritarastra mempunyai 100 putra yang dikenal sebagai Kaurawa, sedangkan Pandu mempunyai lima putra yang dikenal sebagai Pandawa. Kelima Pandawa itu adalah Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Raja Pandu meninggal dalam usia yang masih muda, ketika anak-anaknya belum dewasa. Oleh sebab itu, meskipun buta, Dritarastra diangkat menjadi raja, mewakili putraputra Pandu.

Dritarastra membesarkan anak-anaknya sendiri dan Pandawa, kemenakannya. Ia dibantu Bhisma, paman tirinya. Ketika anak-anak itu sudah cukup besar, Bhisma menyerahkan mereka semua kepada Mahaguru Drona untuk dididik dan diberi ajaran berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan yang harus dikuasai putra-putra bangsawan atau kesatria.

Setelah para kesatria itu selesai belajar dan menginjak usia dewasa, Dritarastra menobatkan Yudhistira, Pandawa yang sulung, sebagai raja. Kebijaksanaan dan kebajikan Yudhistira dalam memerintah kerajaan membuat anakanak Dritarastra, terutama Duryodhana putra sulungnya, dengki dan iri hati. Duryodhana bersahabat dengan Karna, anak sais kereta yang sebenarnya putra sulung Kunti, ibu Pandawa, yang terlahir sebelum putri itu menjadi permaisuri Pandu.

Sejak semula Karna selalu memusuhi Arjuna. Permusuhan Karna dengan Pandawa diperuncing karena persekutuannya dengan Sakuni. Kedengkian dan iri hati Kaurawa terhadap Pandawa makin mendalam. Kaurawa menyusun rencana untuk membunuh Pandawa dengan membakar mereka hidup-hidup ketika para sepupu mereka sedang beristirahat dalam istana yang sengaja dibuat dari papan kayu. Pandawa berhasil menyelamatkan diri dan lari ke hutan berkat pesan rahasia Widura kepada Yudhistira, jauh sebelum peristiwa pembakaran terjadi.

Kehidupan yang berat selama mengembara di hutan membuat Pandawa menjadi kesatria-kesatria yang tahan uji dan kuat menghadapi segala marabahaya dan kepahitan hidup. Pada suatu hari, mereka mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh Raja Drupada dari Negeri Panchala untuk mencarikan suami bagi Dewi Draupadi, putrinya yang terkenal cantik, bijaksana dan berbudi halus.

Sayembara itu diselenggarakan dengan megah dan meriah. Banyak sekali putra mahkota dari berbagai negeri datang untuk mengadu nasib. Tak satu pun dari para putra mahkota yang semuanya gagah perkasa itu berhasil memenangkan sayembara. Tak satu pun kesatria yang mampu memanah sasaran berupa satu titik kecil di dalam lubang sempit di pusat cakra yang terus-menerus diputar. Arjuna yang saat itu menyamar sebagai brahmana maju ke tengah gelanggang. Semula sayembara itu hanya boleh diikuti oleh golongan kesatria, tetapi karena tidak ada kesatria yang mampu memenangkannya, Raja Drupada mempersilakan para pria dari golongan lain untuk ikut.

Panah Arjuna tepat mengenai sasaran, ia memenangkan sayembara dan berhak mempersunting Draupadi. Pandawa membawa Draupadi menghadap Dewi Kunti, ibu mereka. Sesuai nasihat Dewi Kunti dan sumpah mereka untuk selalu berbagi adil dalam segala hal, Pandawa menjadikan Dewi Draupadi sebagai istri mereka bersama. Munculnya Pandawa di muka umum membuat orang tahu bahwa mereka masih hidup. Dritarastra memanggil mereka pulang dan membagi kerajaan menjadi dua, untuk Kaurawa dan Pandawa. Kaurawa mendapat Hastinapura dan Pandawa mendapat Indraprastha.

Di bawah pemerintahan Yudhistira, Indraprastha menjadi negeri yang makmur sejahtera dan selalu menegakkan keadilan. Duryodhana iri melihat kemakmuran negeri yang diperintah Pandawa. Ia menyusun rencana untuk merebut Indraprastha dengan mengundang Yudhistira bermain dadu. Dalam tradisi kaum kesatria, undangan bermain judi tidak boleh ditolak. Dengan licik Kaurawa membuat Yudhistira terpaksa bermain dadu melawan Sakuni yang tak segan-segan bermain curang hingga Yudhistira tak pernah bisa menang.

Yudhistira kalah dengan mempertaruhkan kekayaannya, istananya, kerajaannya, saudara-saudaranya, bahkan dirinya sendiri. Setelah semua yang bisa dipertaruhkannya habis, Yudhistira yang tak kuasa mengendalikan diri mempertaruhkan Dewi Draupadi, istri Pandawa. Karena kalah berjudi, Yudhistira dan saudara-saudaranya serta Dewi Draupadi diusir dari kerajaan. Mereka diharuskan hidup mengembara di hutan selama 12 tahun, lalu pada tahun ketiga belas harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun.

Setelah 12 tahun hidup dalam pembuangan, Pandawa hidup menyamar di negeri Raja Wirata. Yudhistira menyamar sebagai brahmana dengan nama Jaya atau Kanka, Bhima sebagai juru masak dengan nama Jayanta atau Ballawa atau Walala, Arjuna sebagai guru tari yang seperti wanita dengan nama Wijaya atau Brihanala, Nakula sebagai tukang kuda dengan nama Jayasena atau Granthika atau Dharmagranthi, Sadewa sebagai gembala sapi dengan nama Jayadbala atau Tantripala atau Aistanemi dan Draupadi sebagai dayang-dayang permaisuri raja dengan nama Sairandhri.

Setelah tiga belas tahun mereka jalani dengan penuh penderitaan, Pandawa memutuskan untuk meminta kembali kerajaan mereka. Perundingan dilakukan dengan Kaurawa untuk mendapatkan kembali Indraprastha secara damai. Sayang, perundingan itu gagal karena Duryodhana menolak semua syarat yang diajukan Yudhistira. Kemudian kedua belah pihak berusaha mencari sekutu sebanyak- banyaknya. Raja Wirata dan Krishna menjadi sekutu Pandawa, sedangkan Bhisma, Drona, dan Salya memihak Kaurawa.

Setelah semua usaha mencari jalan damai gagal, perang tidak bisa dihindarkan. Dalam pertempuran di padang Kurukshetra, Arjuna sedih melihat bagaimana sanaksaudaranya tewas di hadapannya. Arjuna ingin tidak berperang. Ia ingin meletakkan senjata. Untuk membangkitkan semangat Arjuna dan mengingatkan dia akan tugasnya sebagai kesatria, Krishna, sebagai pengemudi keretanya, memberi nasihat mengenai tugas dan kewajiban seorang kesatria sesuai panggilan dharma-nya. Percakapan antara Krishna dan Arjuna itu dimuat dalam Bhagavadgita.

Pertempuran dahsyat antara Pandawa dan Kaurawa berlangsung selama delapan belas hari. Darah para pahlawan bangsa Bharata membasahi bumi padang pertempuran. Bhisma, Drona, Salya, Duryodhana dan pahlawanpahlawan besar lainnya, juga balatentara Kaurawa musnah di medan perang itu. Aswatthama, anak Drona, membalas kematian ayahnya dengan masuk ke perkemahan Pandawa di malam hari. Ia membunuh anak-anak Draupadi dan membakar habis perkemahan Pandawa.

Pada akhirnya Pandawa memang menang, tetapi mereka mewarisi janda-janda dan anak-anak yatim piatu karena seluruh balatentara musnah. Aswatthama berusaha memusnahkan Pandawa dengan membunuh bayi dalam kandungan istri Abhimanyu. Berkat kewaspadaan Krishna, bayi itu dapat diselamatkan. Bayi itu lahir dan diberi nama Parikeshit.

Setelah perang berakhir, Yudhistira melangsungkan upacara aswamedha dan ia dinobatkan menjadi raja.
Dritarastra yang sudah tua tidak dapat melupakan anakanaknya yang tewas di medan perang, terutama Duryodhana.Walaupun Dritarastra tinggal bersama Yudhistira dan selalu dilayani dengan sangat baik, namun pertentangan batinnya dengan Bhima tidak dapat dielakkan.

Akhirnya Dritarastra minta diri untuk pergi ke hutan dan bertapa bersama istrinya, Dewi Gandhari. Sesuai janji mereka untuk selalu bersama, Kunti menemani Gandhari pergi ke hutan. Dalam sebuah kebakaran hebat yang terjadi di hutan, mereka musnah dimakan api. Kedukaan yang mendalam atas kematian sanaksaudara mereka dalam perang membuat hati Pandawa tidak bisa tenang. Akhirnya, setelah menyerahkan takhta kerajaan kepada Parikeshit, cucu mereka, Pandawa meninggalkan ibukota dan pergi mendaki Gunung Himalaya. Seekor anjing menyertai mereka. Dalam perjalanan ke puncak Gunung Himalaya, satu per satu Pandawa gugur. Roh mereka segera disambut Indra, Hyang Tunggal di surga.

diambil dari : Buku Mahabharata karangan Nyoman S Pendit

5 Agustus 2012

0 Mujab dan Samir


Mujab dan Samir telah berkelana menggelandangi gurun dan kota untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Namun karena ketidakahlian mereka pada bidang yang sedang dibutuhkan disuatu kota, membuat mereka belum mendapatkan pekerjaan sampai kota terakhir. Dalam perjalanan dari kota tersebut,
Mujab berkata, “Kalau bukan karena kamu, kita pasti sudah bisa mendapatkan pekerjaan dikota tadi”.
“Tapi kan mereka membutuhkan seorang dokter, dan kita tidak tahu menahu masalah penyakit dan obat-obatan”, sahut Samir.
“Tapi kan mereka juga tidak tahu kalau kita bukan dokter? Pokoknya dikota terakhir nanti kita harus bilang iya (bisa) jika ada orang yang menawarkan pekerjaan”, Mujab bersikukuh.
Tanpa disadari karena Samir terlalu memperhatikan Mujab, tanpa mereka tahu kereta kuda yang mereka naiki hampir menabrak papan penunjuk jalan. Dan “gubrak”. Mereka menabrak papan itu, dan papannya benar-benar rubuh.
“Hei lihat Samir, kamu menabrak papannya”, nada Mujab agak kesal.
“Ya sudah ayo lanjutkan perjalanan ke kota Basrah setelah memberdirikan papannya lagi”.
Akhirnya Mujabpun memberdirikan seperti semula.
“Sudah biar aku yang mengendarai sekarang”, Mujab mengambil alih kemudi.
Dan merekapun melanjutkan perjalanan ke kota Basrah. Tetapi tanpa mereka sadari, ternyata papan jalan yang mereka pasang terbalik. Sehingga 2 orang petugas hukum yang akan menuju kota Basrah salah arah.
Mujab dan Samirpun tiba di Kota Basrah. Setiba mereka, ada beberapa kawanan perampok yang sedang merampok bank kota. Karena ketidakberdayaan warga, mereka hanya dibiarkan mengambil uang simpanan.
“Mana petugas hukum yang dijanjikan sang Raja???”, teriak pemilik bank tersebut.
Seorang anak kecil yang melihat Mujab dan Samir tiba-tiba bertanya pada keduanya.
“Andakah petugas hukum yang diutus sang Raja ke kota kami?”
“Emh.. bukan... ya...”, jawab Samir ragu-ragu.
“Sudah iyakan saja, demi pekerjaan kita”, bisik Mujab.
“Iya kami petugas hukum yang diutus sang Raja”, Samir menjadi pasti.
“Sebentar saya panggilkan pak Walikota”, ucap anak kecil tersebut sambil berlari menuju tempat walikota.
Dan tibalah walikota di tempat Mujab dan Samir berada.
“Silakan... silakan.. Selamat datang di kota kami. Ya sudah kalo begitu, kalian mau digaji berapa? 500 keping uang emas tiap bulan?”, sambut walikot dan tanpa basa-basi.
“500???”, ucap Mujab heran karena besarnya.
“emh, baiklah, kalian akan kami gaji 1000 keping uang emas. Na mari singgah di tempat saya terlebih dahulu.”
Maka merekapun beristirahat dulu di tempat walikota. Dan pada malam hari itu, diadakan pesta penyambutan untuk keduanya. Makan mewah dan banyak hiburan.
Dan fajarpun tiba.
“Permisi wahai petugas hukum, sudah saatnya”, teriak salah satu penduduk yang memanggil mereka berdua yang sedang tidur ditempat yang sudah disediakan untuk mereka.
“Sudah saatnya untuk apa???”, tanya Samir bingung.
“Sudah, ayo kita ikuti saja kehendak mereka. Biar mereka tidak curiga.”
Dan merekapun mengikuti warga  yang membawa mereka ke suatu tempat. Di tengah gurun pasir dan diatas bukit yang dibangun gedung seperti altar pemujaan bangsa Mesir. Dan ternyata disitulah kawanan perampok itu bersembunyi.
Dan dengan tiba-tiba, walikota berteriak, “wahai kalian para perampok kota, sudah saatnya kalian ditangkap. Bersiaplah.”
Mendengar hal itu, pemimpin perampok tersebut mendekati mereka dan berkata dengan nada menyindir, “Ditangkap??? Siapa yang akan menangkap kami?”
Serentak warga menunjuk ke arah Mujab dan Samir. Lantas, pemimpin perampok menghampiri Mujab dan Samir, “Jadi kalian petugas hukum yang baru untuk kota ini?”
Dan memang dasar penakut dan tidak pandai berkelahi, Mujab dan Samirpun kabur tunggang langgang. Yang akhirnya disusul oleh warga.
“ha...ha...ha... bawalah petugas hukum yang mana saja yang kalian suka. Tangkap kami kalo memang berani”, pemimpin perampok itu tertawa senang.
Dan akhirnya karena kegagalan, Mujab dan Samir angkat kaki dari Kota Basrah dengan diiringi tatapan kecewa dan marah para warga.
Sehari berselang, kawanan perampok itu kembali mulai merampok Kota Basrah. Tapi tanpa disangka-sangka, ada beberapa orang yang dengan lincah dan sigapnya melawan mereka. Dan akhirnya semua perampok berhasil dibekukan.
“Wahai saudara, kalian ini siapa?”, tanya walikota Basrah.
“Kami adalah petugas hukum yang diutus sang Raja. Tetapi karena papan jalan tertabrak oleh mereka, dan mereka salah membenarkan, kami jadi tertunda sampai disini”, jawab salah satu dari penyelamat tadi sambil berpaling ke arah Mujab dan Samir.
“Syukurlah akhirnya kalian benar-benar datang. Kami sangat mengharapkan orang seperti kalian di kota ini”.
“Tapi kami harus membawa dan mengadili para perampok ini di kerajaan”.
“Terus siapa yang akan jadi petugas hukum kami?”, walikota bingung.
“Saya rasa sudah ada yang berbakat dan pantas menjadi petugas hukum”.
“Siapa?”, walikota bertanya lagi.
“Mereka berdua”. Sambil menunjuk ke arah Mujab dan Samir.
“Tapi kan kami tidak tahu apa-apa dan kami juga tidak punya keberanian untuk menghadapi perampok seperti itu.”, jawab Samir.
“Keberanian kalian datang ke kota ini sudah cukup membuktikan kalian lebih berani daripada petugas hukum yang sudah-sudah.”, jawab sang walikota sambil tersenyum.
Akhirnya petugas hukum kerajaan kembali ke kerajaan untuk membawa dan mengadili para perampok tersebut. Dan Mujab berserta Samir diterima dengan baik menjadi petugas hukum yang baru oleh warga sekitar. Dan semenjak itu, mereka menjadi benar-benar petugas hukum yang adil dan bijak. Dan karenanya, semenjak itu tidak ada lagi terdengar dan terjadi kasus perampokan maupun tindak kriminal lain.
Semoga bermanfaat.

0 QOSIM DAN SEPATU USANG


Tersebutlah Qosim, seorang saudagar kaya yang sedang menikmati hasil jerih payahnya di masa muda. Namun sayang, sifat Qosim tidak sedermawan yang diharapkan dari seorang saudagar muslim kaya. Pernah suatu saat, ada seorang nenek yang menawarkan dagangan kepadanya di depan rumahnya, bukannya dibantu dengan membelinya, dia malah mengusir nenek itu, “Hei nek, minggir kau. Aku mau masuk rumah”. Dan akhirnya Qosim tetap menjalankan kereta kudanya masuk rumah dan hampir menabrak nenek tersebut.
“Selamat siang dan selamat datang Tuan”, sambut tukang kebun Qosim yang disebut Nazim.
“Siang Nazam”, jawab Qosim. Dia agak sedikit peduli pada tukang kebunnya karena sudah mengabdi 30 tahun.
“Nazim tuan.”, Nazim membenarkan.
“Iya...iya... cerewet. Nazim apa yang masih kau pakai dikakimu itu?”, melihat sepatu kotor dan tercium bau tak sedap.
“Sepatu saya tuan, dia telah menemani saya 30 tahun bekerja disini.”
“Sudah buang saja sana. Kotor begitu dan juga udah sangat usang.”
“Tapi ini sudah menemani saya sejauh ini tuan. Sayang kalau dibuang”.
“Karena udah lama itu, maka sepatu itu perlu dibuang.”
Dan beberapa waktu, Nazim meninggal dunia. Dan dipagi-pagi buta, pintu rumah Qosim diketuk.
“Siapa ya?”, Qosim bertanya.
“Perkenalkan, saya pengacara yang mewakili almarhum Nazim. Beliau meninggalkan warisan untuk Anda”, jawab orang yang mengetuk pintu yang ternyata memang pengacara.
“Warisan? Apakah itu? Uang Emas? Perak?”
“Bukan. Warisan almarhum Nazim untuk Anda adalah ini”, sambil menyodorkan sepatu kotor, usang, dan bau yang biasanya dikenakan oleh Nazim.
“Euh... apa-apan itu? Bawa pergi saja. Buang saja.”, cela Qosim jijik melihat sepatu itu.
“Tidak bisa, ini adalah hak milik Anda. Jadi silakan dijaga dan dirawat.”
Dan akhirya setelah menyerahkan sepatu itu, pengacar tersebut pergi dari rumag Qosim.
“Warisan macam apa ini?”, cela Qosim. Dan dengan ringan tangan, dia melemparkan sepatu itu keluar rumahnya.
Namun naas, sepatu itu mengenai seorang yang sedang berjalan di depan rumahnya. Dan akhirnya perkaranya dibawa ke pengadilan.
“Saudara Qosim, Anda diharuskan membayar denda sebesar 250 keping uang emas untuk biaya pengobatan korban.”, hakim pengadilan memutuskan.
“Apa? 150 keping uang emas?”, Qosim protes.
“Dan tambahan 250 keping uang emas karena berusaha melawan hukum.”
Akhirnya dengan jengkel, Qosim membayar uang denda itu. Dalam perjalan pulang, ada yang berteriak, “Pak Qosim, Pak Qosim. Ada barang Anda yang tertinggal di pengadilan”.
Dan akhirnya sepatu itu kembali ke Qosim. Untuk membuangnya lagi, maka Qosim pergi ke pelabuhan. Disana dia melihat orang memancing dan melewati mereka saja untuk membuang sepatunya. Dan “byur” sepatu itu terbuang kelaut. Tapi naas lagi, ternyata sepatu itu terkait di turbin (mesin) kapal. Sehingga kapal lepas kendali dan menabrak pelabuhan.
“Saudara Qosim, Anda diharuskan membayar denda 500 keping uang emas untuk perbuatan Anda.”, hakim memutuskan.
“Tapi,,?”, belum selesai sudah dipotong oleh hakim.
“Dan menjadi 100 keping karena Anda berusaha melawan keputusan hukum untuk kedua kalinya”.
Dan lagi-lagi dengan jengkel Qosim membayar denda itu. Kebingungan mau dibuang kemana lagi, akhirnya terpikir oleh Qosim, “kenapa tidak aku bakar saja sepatu itu?” Dan akhirnya malam harinya, dia sudah menyiapkan perapian seperti api unggun untuk membakar sepatu itu. Dan nasib memang berkata lain, dalam keadaan sedikit terbakar, ada seekor burung yang mengambil sepatu itu dan membawanya terbang. Karena kesal, Qosim melempari burung itu dengan kayu diperapian itu. Dan “bruk” kayu itu mengenai burung itu. Tetapi tanpa sadar, beberapa kayu yang dilemparnya terlebih dahulu malah tersangkut di rumah. Dan “wush”, api tiba-tiba muncul dari rumahnya.
Kontan dia berlari ke dalam rumah untuk memadamkannya. Tetapi api semakin membesar. tiang-tiang roboh. Kaca jendela pecah. Dalam keadaan panik karena jalan keluar tertutupi pecahan kaca Qosim tidak memakai alas kaki, tiba-tiba dia ingat kalau dtangan kanannya ada sepasang sepatu yang tadi kontan diambilnya saat masuk dalam rumah. Dan tanpa ragu-ragu akhirnya dia memakai itu untuk melarikan diri dari kobaran api.
Dan, hanya dalam hitungan menit, rumah Qosim terlahap api yang ganas itu. Untungnya rumahnya terdaftar di asuransi, sehingga biaya renovasi rumahnya ditanggung pihak asuransi. Dan selesai perbaikan rumah, Qosim melihat menyadari lagi kehadiran sepatu usang dan kotor itu. Dia berniat membuangnya ke tong sampah. Tapi dalam hati,
“Tetapi sepatu pemberian Nazim inilah yang sudah menyelamatkan hidupku, sehingga sudah sepantasnyalah aku tidak membuangnya”.
Dan semenjak saat itu, Qosim memakai sepatu itu kemanapun dia pergi dengan bangganya. Maka sejak saat itu, tersebarlah kisah “QOSIM DAN SEPATU USANG”.

17 Juli 2012

0 Puasa Lapar??? Bantai....


Akhirnya dapet inspirasi juga. “knapa ga menulis tentang ramadhan???” kan bentar lagi bulan ramadhan. Tapi apa yang mau ditulis tetep aja masih bingung. Ngeliat image yang lumayan chibi di google image malah jadi pengen ngulas mengenai itu. Padahal katanya pengen ngulas tentang ramadhan. Tapi karena yang lebih ahli pasti sudah lebih banyak, mending mbahas sesuatu yang lain.
Pasti banyak yang udah ngepost bagaimana mempersiapkan diri menyambut ramadhan baik dari segi fisik maupun rohani. Karena gw ga punya dasar yang cukup mengenai itu, jadi gw ga bakal mbahas itu.pet inspirasi juga. “knapa ga menulis tentang ramadhan???” kan bentar lagi bulan ramadhan. Tapi apa yang mau ditulis tetep aja masih bingung. Ngeliat image yang lumayan chibi di google image malah jadi pengen ngulas mengenai itu. Padahal katanya pengen ngulas tentang ramadhan. Tapi karena yang lebih ahli pasti sudah lebih banyak, mending mbahas sesuatu yang lain.
Yang mau gw bahas adalah APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA LAPAR KARENA PUASA???
Yoooossshhh... kalo puasa, gak bisa dipungkiri kita puasa mesti merasa lapar. Wajar saja, soalnya kita hanya makan dan minum di saat sahur. Selebihnya tidak diperbolehkan karena akan membatalkan puasa kita. Mungkin bagi sebagian besar orang yang sudah terbiasa hal ini tidak akan jadi masalah ketika harus makan sehari sekali pas sahur aja. Tapi sebagian besar orang adalah orang yang terbiasa makan 2 ato 3 kali sehari secara teratur. Sarapan pagi, makan siang, makan malam dan cemilan-cemilannya. Na untuk golongan ini pasti ketika hanya makan di saat sahur akan “kelaparan”.
Karena puasa itu suatu ibadah yang diwajibkan dan pahalanya terlampau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Karena puasa itu suatu ibadah yang diwajibkan dan pahalanya terla
mpau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Karena puasa itu suatu ibaah yang diwajibkan dan pahalanya terlampau besar, sayang donk kalo tidak berpuasa hanya gara-gara tergoda makan saat kita kelaparan???
Mungkin hal-hal berikut bisa dilakukan untuk mengurangi rasa lapar.
1. Internetan
Yooossshhh... hal yang satu ini bisa dibilang makanan wajib buat anak-anak ilkom. Tanpa internet, mungkin bisa jadi mereka bukan siapa-siapa. Tapi tenang, bukan untuk mencari bahan tugas atopun refferensi kodingan sekedar ingin “keppo” ma sesuatu kodingan. Tapi yang bisa dilakuin saat kita berpuasa adalah melakukan something yang menyenangkan di internet. Seperti browsing be
rita dan informasi maupun surfing di websitenya, download file-file yang menyenangkan seperti installer game, film maupun document penting, atau juga bisa ngegame online.
2. Ngegame PC

Kalo yang satu ini bisa dibilang jantungnya anak ilkom. Anak ilkom tanpa ngegame ibarat kata “sesuatu banget” kata syahrini. Ya meski level ngegame orang-orang berbeda. Mulai dari game bawaan windows sampe game yang membutuhkan hampir separo dari kapasitas RAM PC / Laptop yang berkapasitas 4gb. Meski game udah sampe ada yang 3D tapi tidak dapat dipungkiri bahwa game-game lama juga masih banyak diminati, mulai dari mario, yugioh maupun pokemon yang emulatornya make file gba.
3. Ngegame
Na kalo yang tadi ngegame di PC, bisa juga ngegame di dunia nyata. Maksudnya bukan PC atopun online. Tapi lebih ke game beneran game. Siapa tahu main futsal, badminton, maupun berbasket ria. Memang kelihata
nnya menguras banyak tenaga, tapi kalau memang suka olahraga dan dijalani dengan senang hati, maka laparnya puasa bisa ga berasa.
4. Mbaca Komik
Kalo yang satu ini adalah kegiatan bagi orang-orang yang memang “males” buat melalukan hiburan fisik ato bagi memang orang suka ato maniak mbaca. Tidak hanya komik, novel maupun berita-berita juga bisa menjadi refferensi yang dianjurkan. Apalagi kalo menunggu waktu berbuka puasa yang biasanya terasa lebih lama.
5. Menulis
Mungkin hal ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Bukan berarti semua orang ga bisa menulis. Tetapi sebagian besar orang lebih preffer untuk tidak menulis suatu karya. Entah artikel atopun suatu cerita. Tapi bukan berarti hal ini tidak menyenangkan. Banyak orang yang memang benar-benar hobi menulis, jika sudah terlantun menuliskan ceritanya, ibarat dia sudah punya dunia sendiri dan ga mau kalau diganggu. Menikmati dunianya istilahnya.
6. Bermusik
Kalo hal yang satu ini, mungkin banyak
yang suka. Bukan berarti harus memainkan musik. Tetapi bisa menyanyi bersama ato solo vokal juga bisa. Sampai kalo bisa juga memainkan alat musiknya sendiri. Tentunya hal ini juga tergantung prefferensi orang mau kemana. Kalo suara bagus memang biasanya dengan Pdnya nyanyi ga peduli sekitar. Tetapi buat yang kurang bagus juga ga dilarang buat melakukan satu hal itu. Apalagi kalo bersama-sama. Intinya have fun aja.
7. Nonton Film
Na kalo ini mesti banyak yang suka. Mulai dari anak-anak sampe nenek dan kakek-kakek. Meski prefferensi tontonannya berbeda-beda. Mulai dari anime / kartoon yang super kocak yang anak-anak suka, sampai acara sinetron yang dari anak kecil mpe nenek-nenek juga suka. Tapi kalau usia remaja dan dewasa, lebih preffer ke dunia yang mistis, scienci, dan action, ato juga komedi. Tapi apalah itu, yang penting nonton.
Mungkin memang ga semua bisa dituliskan disini sarannya. Mungkin banyak juga orang yang punya cara sendiri untuk menghilangkan ke BT an gara-gara menahan lapar di saat puasa.
“Intinya mah lakuin sesuatu yang membuat kita have fun aja, menikmati waktu yang ada, insyaallah puasa gak akan berasa lapar.”
Semoga bermanfaat.




13 April 2012

0 Biarkanlah Rasa “IRI” Menuntunmu Menuju Surga


Jum’at, 13 April 2012 di Kamar Kostan
Seperti layaknya mahasiswa yang baru saja “purna” Ujian Tengah Semester, kegiatan kampus belum begitu hidup lagi. Jadi masih banyak waktu menganggur di kostan. Tapi banyak juga yang memanfaatkan waktu tersebut untuk sekedar refreshing otak setelah bertempur dengan berbagai macam mata kuliah. Ya masalah hasil mah ntar aja, yang penting udah selesai UTS nya.
Ngomong-ngomong selesai, tinggal sebulan lagi sebelum angka 2 pertama ini pertama habis. Tinggal sebulan sebelum semua kembali dari 0. Tapi apakah mau menunggu selama itu??? Apakah dalam waktu sebulan ini hanya akan berpangku tangan??? Apakah hanya akan meratapi apa yang telah terjadi???
Sering diri ini “IRI” dengan apa yang bisa dicapai orang lain. Padahal sudah sering sejak masuk SD, guru Agama mengatakan “Yang namanya “IRI” adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari”. Penyakit yang bila tidak dihapuskan dari hati ini, akan bisa memakan pahala-pahala yang selama ini telah dilakukan.
Tapi benarkah semua “IRI” dilarang???
Mungkin banyak dari kita sering berpikir tentang diri kita dan membandingkan dengan orang lain. Misalnya saja, “mengapa aku ndak bisa seperti dia???” “mengapa dia bisa saya ndak bisa???” mungkin bagi sebagian besar orang, pikiran itu sempat terlintas dipikirannya. Lantas apakah itu sesuatu yang dilarang?
Jawabannya mestilah tergantung dari sudut mana kita memandang. Misal saja, dengan berpikir begitu kita jadi malah dengki sama orang yang punya kemampuan lebih dibandingkan kita, maka hal itu teramat sangat dilarang. Pasalnya, jika hal itu berlanjut bukan tidak mungkin dari modal “IRI” ini akan merambah ke dusta, bahkan sampai fitnah. “IRI” yang seperti inilah yang teramat sangat dilarang.
Tapi beberapa orang mungkin akan berpikiran lain. Banyak orang yang jika ingin melakukan sesuatu, tidak bisa spontan. Maksudnya adalah dia perlu semacam simultan. Bukan maksudnya untuk pamer atau riya, tapi seseorang biasanya akan lebih bersemangat untuk melakukan sesuatu jika ada orang lain juga yang melakukannya. Istilahnya bisa disebut sebagai rival. Walaupun tidak dideklarasikan secara langsung, tetapi kalau sudah menganggap rival pasti tidak mau kalah.
Na “IRI” seperti ini saya rasa tidak dilarang. “IRI” melihat orang lain bisa melakukan kebaikan yang lebih dari kita. Yang pada akhirnya akan mampu memacu diri kita untuk mengikuti bahkan melampauinya. “IRI” yang bahkan akan bisa mendekatkan diri pada Sang Pemberi Hidup. “IRI” yang bisa malah menjadikan kegiatan sosial berjalan lebih baik. Banyak bibit kebaikan tumbuh dan berbuah dari pupuk ke”IRI”an.
Mungkin bagi sebagian besar orang, pikiran ini fanatik dan sekuler. Tetapi belajar dari seorang teman, “LAKUKANLAH APA YANG MEMANG INGIN KAMU LAKUKAN, BIARKANLAH APA YANG DIKATAKAN ORANG LAIN, YANG PENTING APA YANG KAMU LAKUKAN TIDAK MERUGIKAN ORANG LAIN DAN DIRIMU SENDIRI”. Dari kata-kata itulah semua ini bersumber.

10 April 2012

0 Maukah Kalah dari Seekor Tikus??


Belajar dari Seekor TikuS
Sebagai seorang manusia, proses belajar adalah bagian dari hidup yang tidak bisa lepas darinya. Belajar dalam mencari ilmu. Semua jenis ilmu bisa dipelajari. Mulai dari ilmu agama /*yang memang wajib dipelajari sebagai tuntunan hidup, dalam islam dinamakan fardhu ‘ain*/, ilmu alam /*sama wajibnya dengan ilmu agama untuk dipelajari, tetapi jika ada orang yang sudah tahu kewajiban sudah gugur, meskipun semakin banyak yang tahu semakin bagus, dalam islam ini dinamakan fardhu kifayah*/, ilmu matematika dan kawan-kawan, ilmu social, sampai ilmu jiwa /*bukan berarti harus jadi psikolog, tetapi aspek yang ditekankan adalah bagaimana seseorang bisa mengerti satu sama lain, sehingga bisa saling menghormati dan menghargai*/.
Dengan ilmu agama, diharapkan seseorang lebih punya tujuan hidup dan pegangannya daripada hana sekedar hidup. Dengan ilmu alam diharapkan seseorang lebih bijaksana dalam mengambil sikap terhadap lingkungan alam sekitar. Dengan ilmu matematika /*yang konon adalah ibu semua ilmu*/ diharapkan kehidupan lebih tertata /*layaknya deretan angka asli.. ups J */. Dengan ilmu social, maka diharapkan hubungan dalam masyarakat bisa menjadi lebih baik. Dan dengan ilmu jiwa diharapkan lebih bisa memahami karakter seseorang danbisa lebih menghormati serta menghargainya. Belajar dari seorang teman, “setiap orang itu punya karakter masing-masing, dan itu tidak bisa diperlakukan sama”. Dari kalimat itu jelas bahwa untuk bertemanpun butuh yang namanya ilmu.. J
/*waaah… ko udah panjang banget ya intronya??? Sekarang kembali ke tujuan J*/
Kalau berbicara masalah belajar, pasti semua orang dan setiap saat melakukan proses belajar, ntah disadari atau tidak. Orang yang tidur pun bisa dikategorikan sebagai seorang yang seddang belajar. Belajar untuk bisa lebih merefresh otak biar nantinya bangun tidur bisa lebih fresh sehingga bisa lebih lancer untuk melakukan sesuatu /*ga pa2lah jadi korban iklan dan korban tv daripada korban pembunuhan… he…he..*/.
Dan ala mahasiswa yang berprinsip “efektif” dan “efisien” dalam mengatur waktu, maka saat-saat ujian seperti minggu-minggu sekarang adalah saat yang paling banyak dihabiskan buat belajar. Materi yang diajarkan di kuliah dalam waktu 7 pertemuan /*alias 100 x 7= 700jam*/ bisa dihabiskan dalam waktu kurang dari 24 jam/*… sungguh sangat keren.. J*/. Tapi dibilang salah juga gak, apalagi buat anak ilkom yang sebagian besar materi hafalam kodingan, kalau dihafal di awal juga bisa lupa. Memang belajar yang baik adalah bukan belajar untuk menghafal, tetapi belajar untuk memahami.
Tapi selain akademik, banyak juga pelajaran yang bisa diambil dari prosesi selama ujian berlangsung dan pasca ujian setelah keluar kelas. Yups, tadi pagi adalah salah satunya. Ternyata, ketelitian dan kesabaran sangat diajarkan dalam prosesi ujian. Bagaimana tidak, kalau tidak teliti, bisa- bisa terjadi kasus yang sebenarnya kita tahu jawabannya tapi salah perhitungan sehingga memilih jawaban yang salah. Ada juga yang karena sudah panjang sehingga sudah malas buat mengerjakan, padahal 2 langkah lagi selesai. Disinilah dituntut yang namanya kesabaran.
Terlepas dari itu semua, sering kali mahasiswa melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Seperti mengulang mata kuliah. Banyak kasus kasus terjadi, mahasiswa yang mengulang bukan karena tidak bisa mengerjakan tetapi karena ceroboh dalam pengerjaannya. Sering kalo juga, mahasiswa tidak teliti dalam membaca soal. Bagaimana mau menjawab soal kalau soalnya saja ada yang kelewat tidak terbaca. Jawaban yang harusnya sempurna menjadi ada yang kurang. Tapi kalau sudah lewat mau bagaimana lagi.
Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dan hikmah dari apa yang telah terjadi pada diri kita. Penyesalan memang sedikit akan berguna, tetapi yang lebih berguna adalah bagaimana kita bisa memanag waktu dan berusaha untuk mengambil hikmah dan manfaat dari apa yang telah terjadi dan juga berusaha untuk tidak terjadi lain kali.
“Tikuspun tidak mau terjebak untuk kedua kalinya”
 

Simple Note Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates